Deep Poster Indonesia 2011
Kamis, 31 Maret 2011
>>> MENUJU INSAN BERIMAN DAN BERKUALITAS
Kamis, 31 Maret 2011
Diposting oleh
Requaza
Selasa, 15 Maret 2011
Diposting oleh
Requaza
Judul postingan di atas merupakan sebuah kata-kata pelengkap atas lomba-lomba poster yang pernah saya ikuti,,. HSD2011 merupakan sebuah kegiatan tahunan yang diadakan oleh fakultas teknologi pertanian Universitas Brawijaya dalam rangka meningkatkan mutu kualitas dalam pengelolaan teknologi pertanian yang ada, rangkaian kegiatan dari HSD2011 ini adalah berupa seminar talkshow dan lomba poster
Awalnya saya lagi jalan-jalan bersama seorang teman waktu itu di dekat FTP UB, kebetulan ada orang yang sedang nempel2 poster di sekitar mading di fakultas itu, maka langsung aja saya coba mampir pengen liat, barangkali ada lomba poster pikirku,, ehh ternyata benar poster yang barusan saja di tempel itu merupakan lomba poster dari FTP sendiri dan langsung saja ketika mengetahui ada lomba poster lagi yang diselenggarakan FTP untuk kedua kalinya sayapun tertarik,, yang sebelumnya pernah ada juga lombanya yakni “pekan pangan halal” saya juga ikut waktu itu,, tapi masih belum rezekinya menang.. T_T, nah kali ini mereka mengadakan lagi dan saya tidak sia-siakan kesempatan kali ini, dengan berharap banyak dari lomba ini maka saya “bismillah” akan mencoba lagi, yah singkatnya sayapun mulai mencoba-coba mendesign poster yang sesuai dengan temanya,, klo g salah waktu tu temanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi terbarukan yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.. hmmm sayapun memutar otak untuk mencari judul yang tepat serta content yang sesuai dengan tema yang ada ini, lalu saya browsing-browsing di internet,, ternyata beuuhh!! Ada buanyak banget hasil dari keyword yang saya masukkan,, hmm dan disini nih bagian bingungnnya,, bingung mau nentuin yang mana sebagai bahan konten untuk posternya.. singkatnya sayapun mendapat ilham (ngawuur!!) untuk mengambil judul Solar Cell alias energi surya..
Mulailah saya menggarap poster tersebut dengan judul Solar Cell tersebut, mulai mencari refrensi-refrensi tentang energi surya, kelebihan, manfaat, fungsi, kekurangan dsb yang berkaitan dengan energi surya,, memang cukup lama sih pengerjaannya, kalo g salah sekitar 1 mingguan deh,, soalnya yang bikin lama tu mempelajari refrensinya, inikan merupakan teknologi jadi y harus tepat dan cermat dalam mengisi konten, ada juga gambar yang saya gunakanpun harus saya pilah2 mana yang sesuai,, wewh.. jadi emang bener-bener agak merepotkan waktu tu.. tapi alhamdulillah jadi juga nih poster yang sesuai dengan maksud saya, (ini hasil posternya.. silahkan dilihat)
Selasa, 21 Desember 2010
Diposting oleh
Requaza
Sabtu, 11 Desember 2010
Diposting oleh
Requaza

Dengan niatan balas dendam, (krn dua minggu yang lalu pernah ikut lomba essay nasionalx Ristek EM UB, tapi g lolos) maka kali ini saya dengan sungguh-sungguh mempersiapkan dua buah poster yang siap saya ikuti dalam lomba poster dengan tema "peran pemuda dalam kehalalan pangan" yang di adakan oleh LOF Forkita FTP UB minggu lalu,, kali ini saya mempersiapkan dua buah poster sekaligus, ya agar peluang juaranya lebih besar mksdx hehe :), tapi jangan salah, kedua poster itu saya buat dengan.. cermat dan teliti, buatnya saja menghabiskan waktu sekitar 3 jam (wah keren ga' tuh.. alah paling hoax ini.. hehe) sebetulnya untuk masalah pembuatan desainnya sih g masalah, tapi saat pengerjaan isi poster alias artikel yang mau di isi di dalamnyalah yang membuatnya sulit,, itu klo g salah lebih dari 8 kali saya ganti judul untuk kedua poster itu,, oya lupa,, judul dari masing2 poster yang saya buat adalah "Pentingnya produk halal dalam perekonomian Islam Global" dan "Pentingnya sertifikasi halal untuk Produk Pangan", alhamdulillah akhirnya tu poster kelar juga.. wes dah tak kirim beberapa hari yang lalu dan semoga harapannya ada salah satu dari karya saya ini berhasil lolos, amiiin,, hmm krn hadianya lumayan soalnya, yah cukuplah buat ngopi2 untuk standar orang seperti saya.. hehe..Label: Karya~ku
Senin, 29 November 2010
Diposting oleh
Requaza
KATA PENGANTAR
Di zaman sekarang ini nilai kejujuran sudah semakin luntur, kebudayaan berlaku tidak jujur telah mewabah dan menjamur dalam budaya negeri ini, ketidak jujuran dalam berkata, bersikap, dan lain sebagainya cenderung sudah di anggap lumrah oleh sebagian orang, bahkan parahnya orang-orang sekarang sudah menganggap ketidak jujuran merupakan bagian dari perilaku hidup kreatif. Ironis sekali di saat adanya peringatan hari anti korupsi sedunia para Lembaga Sosial Masyarakat dengan berbondong-bondong menyemarakkan kegiatan tersebut dan para pemimpin negara yang ikut-ikutan berpidato mengutuk para koruptor namun pada kesehariannya telah membiasakan dirinya berlaku tidak jujur walaupun dalam hal-hal kecil atau hal yang sepele, jelas hal ini tidak akan bermanfaat dan berpengaruh apa-apa dikala dirinya sendiri saja masih belum dapat melaksanakan larangan yang ia sampaikan sendiri, maka dari pada itu diperlukan yang namanya penjagaan diri yang kokoh, dimana tatkala terjadi kesempatan melakukan tindakan tidak jujur kita masih dapat membentengi diri dari ancaman hal tersebut, hal pokok itu adalah semangat spiritualitas, karena dengan semangat spiritualitas itulah segala tindak tanduk kita akan terasa di awasi oleh yang satu-satunya yang maha mengawasi, yaitu Allah SWT.
Kantin Kejujuran
Kantin kejujuran merupakan sebuah program yang telah dirintis sebelumnya oleh pemerintah. Pemerintah mencoba mendirikan warung kejujuran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sebagai upaya edukatif anti korupsi
Kantin itu dikelola oleh murid dan mahasiswa sendiri dengan modal patungan. Untuk membeli makanan di kantin itu murid tinggal memasukkan sendiri uangnya ke dalam kotak yang disediakan, termasuk mengambil kembaliannya sendiri manakala uang yang dibayarkan lebih. Tapi, lebih praktisnya pembeli diminta membayar dengan uang pas.
Di situlah kejujuran para murid dan mahasiswa dilatih. Sebab, kantin itu tanpa ada yang menunggu. Mereka yang tidak jujur, bisa jadi ambil kue dua tapi cuma bayar satu. Tapi kebiasaan yang terjadi, secara psikologis siswa akan malu dengan sendirinya manakala tidak jujur dalam membeli makanan di kantin apalagi bila hal itu diketahui teman-temannya. Terlebih lagi bila di kantin itu diberi ''kata-kata mutiara'' sebagai pengingat yang bisa memacu motivasi siswa untuk bersikap jujur. Misalnya tulisan yang ditempel di dinding kantin berbunyi ''jujur membawa sehat, tidak jujur membawa sesat'', dan lain sebagainya.
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Harapan dan cita- cita akan adanya kejujuran dalam setiap individu masyarakat negeri ini nampaknya kembali dipertanyakan. Sekolah, yang merupakan wadah aktivitas pendidikan paling utama, tidak hanya mengajarkan pengetahuan umum dan agama saja, lebih dari itu, kantin kejujuran merupakan salah satu “mata pelajaran” yang ampuh untuk menjauhkan korupsi.
Korupsi dalam dunia pendidikan, menurut laporan Indonesian Corruption Watch, dilakukan secara bersama- sama dalam berbagai jenjang, dari tingkat sekolah, perguruan tinggi, dinas, sampai departemen. Guru, kepala sekolah, dosen, dekan, rektor kepala dinas, dan seterusnya masuk dalam jaringan korupsi. Perguruan tinggi yang diharapkan menjunjung nilai- nilai kejujuran justru mempertontonkan kepada mahasiswanya praktik- praktik korupsi. Lalu, bagaimana dengan para mahasiswa?
Di saat asa dan cita kita membumbung tinggi untuk membentuk insan yang bermental jujur serta amanah lewat “testing” kantin kejujuran ini, namun justru hal yang diharapkan dari kantin kejujuran ini gagal, kita pantas untuk mengerutkan dahi.
Bagaimana tidak, para mahasiswa adalah tunas bangsa yang menjadi harapan kita bersama, di tangan merekalah tongkat estafet kemajuan bangsa ini berada. Namun, kenapa korupsi itu terjadi “secara dini” di kalangan mahasiswa kita?
Bologna dan Lindquist dalam Fraud Auditing and Forensic Accounting (New York: John Wiley & Sons, 1995) menyatakan “Tindak kecurangan korupsi bisa terjadi pada siapa saja, tidak dapat dibedakan secara demografi maupun karakteristik psikologis. Siswa yang nampaknya “berwajah” jujur tak segan mengambil uang kantin, atau mengambil uang kembalian jajan lebih besar. Hal ini memang merupakan tantangan kita bersama, bahwa salah satu media pembentukan mental yang jujur adalah dengan memberikan mereka ” kebebasan” dalam bertindak. Apakah mereka mampu berdialog dengan hati nurani atau tidak? Tentu, para mahasiswa sudah cukup matang dan mampu berfikir secara logis akan bahaya dan akibat dari korupsi.
Dalam kasus ini, pihak universitas sebagai pihak terlibat secara langsung haruslah pandai- pandai membuat kebijakan dan penyuluhan lebih lanjut terhadap para mahasiswa agar bisa mengarahkan mereka untuk berbuat fair, begitu pula peran orangtua dalam menciptakan lingkungan yang terbuka dan jujur.
Di sisi lain, bagaimana pun juga kita harus mengapresiasi pihak universitas dan masyarakat yang turut serta mendukung kantin kejujuran ini, dengan harapan akan terciptanya sebuah budaya kejujuran, keterbukaan serta mmenghapus budaya korupsi yang sudah terlanjur mengakar di hampir setiap sektor kehidupan kita.
BAB II
PEMBAHASAN
Sebuah cara baru untuk memupuk jiwa kejujuran kini mulai diterapkan di Universitas Brawijaya. Cara ini bisa dibilang adalah langkah awal untuk memberangus semakin akutnya budaya korupsi di negeri ini.
Seperti telah banyak diketahui bahwa korupsi merupakan pangkal permasalahan ekonomi di bumi pertiwi. Kesejahteraan rakyat akan menjadi hal yang mustahil diwujudkan jika sifat korupsi masih hinggap di hati-hati para pemimpin negeri ini.
Kantin kejujuran adalah sebuah langkah nyata demi memberantas korupsi sedari dini yang dilakukan di lebih dari seribu sekolah SD, SMP, SMA dan Madrasah yang terdapat di seluruh Indonesia. Dan itu kini diterapkan di Universitas Brawijaya.
Tujuan didirikannya kantin kejujuran ini memang tidak main-main. Dilihat dari namanya saja, kantin kejujuran, kita sudah bisa melihat tujuan utama dari kantin kejujuran yakni melatih kejujuran para mahasiswa serta mencegah tindakan korupsi mulai dari lingkungan kampus, dan diharapkan bahwa perilaku terpuji ini bisa terbawa dan tertular hingga di lingkungan luar kampus, dan di masa-masa berikutnya selepas keluar dari kampus dan hidup bermasyarakat pada umumnya.
Kantin kejujuran adalah sebuah kantin yang prinsipnya sama seperti kantin biasa pada umumnya. Perbedaan mendasar hanya terletak pada tidak ada penjaga kantin yang bertugas melayani dan mengawasi keluar masuk barang dan uang.
Karena tidak ada penjaga kantin, maka setiap mahasiswa yang ingin membeli barang dan makanan yang disediakan di kantin kejujuran ini hanya bisa melihat bandrol harga dan label barang yang tersedia di kantin kejujuran tersebut. Biaya yang dikeluarkan mahasiswa sesuai dengan banyak transaksi barang dan jumlah harga keseluruhan barang yang mereka beli tersebut.
Jadi, bila seorang mahasiswa A membeli barang seharga Rp 2000 maka ia wajib membayarnya Rp 2000 pula. Pun juga dengan uang kembalian, mahasiswa tersebut bisa mengambil sesuai dengan besar kembalian yang memang menjadi haknya. Disinilah akan dilatih rasa kejujuran dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang curang mungkin hanya akan membayar kurang dari harga barang yang dibelinya, taruhlah membeli barang seharga Rp 2000 kemudian ia hanya membayarnya dengan Rp 1000.
Ini akan melatih rasa kejujuran para mahasiswa serta mencegah tindakan korupsi sedari dini. Jadi, hakikatnya para mahasiswa sendiri yang menjadi penjaga sekaligus pelayan kantin. Sehingga benar-benar sangat dituntut kejujuran dari dirinya.
Dengan adanya kantin kejujuran semoga perbuatan yang sederhana dimulai dari hal yang kecil seperti ini bisa berlanjut ke tingkat yang lebih besar, sehingga slogan 'Anda berbuat, Tuhan melihat, Malaikat mencatat' akan terus terbawa sampai akhir usia setiap warga Indonesia dan semoga Indonesia di masa depan bebas dari korupsi
Perguruan Tinggi merupakan suatu wadah raksasa yang menampung orang-orang atau masyarakat yang tujuannya melahirkan para calon pemimpin dan cendikiawan-cendikiawan muda yang produktif dan mampu membangun negeri ini menjadi lebih baik, untuk itu ironis apabila calon seorang pemimpin negeri melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan maksud dari keberadaan dirinya, apa hal yang bertolak belakang tersebut?, mulai dari hal yang kecil yaitu berlaku jujur. Seperti banyak kasus sekarang ini yang terjadi di Universitas Brawijaya adalah kehilangan barang seperti helm dan sepeda motor, hal ini sangat disayangkan karena kemungkinan terbesar pelakunya adalah mahasiswa sendiri, dimana keberadaanya seharusnya bisa lebih bermanfaat demi kesejahteraan warga universitas namun malah membuat kerugian, untuk itulah sebagai sebuah inovasi perlu di berdayakannya usaha kantin kejujuran dalam wujud yang lebih besar dan lebih diperhatikan agar bertujuan mampu mengikis sifat ketidak jujuran dan menumbuhkan rasa malu untuk berbuat hal yang demikian.
Penyediaan kantin kejujuran di kampus merupakan langkah untuk melatih mahasiswa bersikap jujur, karena pada kantin tersebut mahasiswa dilatih berbelanja makanan tanpa ada penjagaan dari pemilik kantin. Dengan terlatih untuk berprilaku jujur maka proses tersebut sudah mulai mengarah pada pengembangan emosional dan kereligiusan. seseorang yang belajar jujur maka akan memiliki kepribadian dan sikap yang baik. Penanaman sikap jujur melalui media kantin diharapkan akan meningkatkan kesadaran untuk berbuat selalu berprilaku jujur tanpa harus ada orang yang melihat perbuatan tersebut. Kejujuran yang tertanam pada diri seorang mahasiswa yang selanjutnya menjadi acuan hidupnya tersebut akan terbawa hingga masa tua mereka, sehingga akan menciptakan calon pemimpin-pemimpin bangsa yang jujur dan tidak korupsi.
BAB III
TUJUAN
Salah satu strategi pencegahan yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia yaitu melalui pendidikan antikorupsi. Ide terus digali untuk mencari strategi terbaik dalam memberantas korupsi melalui pendidikan antikorupsi tersebut, termasuk cara mengasah kejujuran dan menumbuhkan mental antikorupsi di kalangan pelajar dan mahasiswa khususnya. Salah satu diantaranya yaitu melalui kantin kejujuran yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya.
Penelitian ini bertujuan untuk:
1) mendeskripsikan pola pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di Universitas Brawijaya Malang.
2) Mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di Universitas Brawijaya Malang.
3) Mendeskripsikan manfaat pengembangan kantin kejujuran dalam rangka pendidikan antikorupsi di Universitas Brawijaya Malang.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data penelitian dibagi menjadi tiga yaitu informan, catatan lapangan dan dokumen. Penentuan informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber yakni dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek data yang diperoleh melalui wawancara, observasi didukung dengan catatan lapangan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa:
1) Kantin kejujuran merupakan salah satu strategi yang tepat agar mahasiswa belajar dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedisiplinan, ketertiban serta kemandirian. Kantin kejujuran dapat digunakan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi. Pola pengembangan kantin kejujuran di Universitas Brawijaya oleh pihak sekolah dilakukan secara efektif dan efisien mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga evaluasi diarahkan pada kemajuan dan hasil yang optimal.
2) Faktor pendukung pengembangan kantin kejujuran terdiri dari adanya bantuan modal; Perilaku warga civitas Universitas Brawijaya untuk berperilaku jujur; mahasiswa menyukai makanan dan dapat menjangkau harga yang ditawarkan; Kesadaran mahasiswa untuk mematuhi norma yang berlaku; Pemahaman mahasiswa terhadap mekanisme pembelian dan pembayaran; Sedangkan faktor penghambat pengembangan kantin kejujuran yaitu semua mahasiswa belum tentu bisa untuk berbuat jujur, disiplin, mandiri, tertib dan bertanggung jawab.
3) Manfaat yang diperoleh diketahui sebagai berikut; akan terbentuknya perilaku dan lingkungan yang jujur serta sebagai sarana mengaplikasikan nilai-nilai kejujuran yang telah diajarkan di dalam kelas; Bagi mahasiswa dapat melatih sikap jujur, bertanggung jawab, mandiri, taat terhadap norma, tata tertib dan ketentuan yang berlaku, dan bagi masyarakat dapat mendidik generasi muda berperilaku jujur dan berakhlak mulia.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Sejatinya masalah korupsi berpangkal dari kejujuran. Meski kesempatan ada dan uang yang dikorupsi sudah di depan mata, tapi kalau seseorang bisa menjalankan amanah dengan jujur pasti tak akan terjadi praktik korupsi.
Tapi kalau sifat tidak jujur itu muncul akibat pengaruh setan, meski kesempatan dan uang yang dikorupsi tidak ada secara langsung, pasti dia akan mencari-cari. Yang perlu dikedepankan untuk mengurangi praktik korupsi adalah bagaimana pemerintah bisa menciptakan aparatur yang jujur. Termasuk juga membudayakan nilai-nilai kejujuran berkembang di tengah-tengah masyarakat kita seperti sekolah-sekolah dan perguruan tinggi khususnya universitas Brawijaya.
Salah satu upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran para mahasiswa di universitas Brawijaya adalah dengan menghadirkan Kantin Kejujuran. Hal itu di angkat sebagai upaya edukatif anti korupsi di lingkungan kampus Brawijaya
Kantin tersebut dikelola oleh mahasiswa sendiri dengan modal patungan. Untuk membeli makanan di kantin itu mahasiswa tinggal memasukkan sendiri uangnya ke dalam kotak yang disediakan, termasuk mengambil kembaliannya sendiri manakala uang yang dibayarkan lebih. Tapi, lebih praktisnya pembeli diminta membayar dengan uang pas. Di situlah kejujuran para mahasiswa dilatih. Sebab, kantin itu tanpa ada yang menunggu. Mereka yang tidak jujur, bisa jadi ambil kue dua tapi cuma bayar satu. Tapi kebiasaan yang terjadi, secara psikologis mahasiswa akan malu dengan sendirinya manakala tidak jujur dalam membeli makanan di kantin apalagi bila hal itu diketahui teman-temannya. Terlebih lagi bila di kantin itu diberi ''kata-kata mutiara'' sebagai pengingat yang bisa memacu motivasi mereka untuk bersikap jujur. Misalnya tulisan yang ditempel di dinding kantin berbunyi ''jujur membawa sehat, tidak jujur membawa sesat'', dan lain sebagainya.
Saran
1) Hendaknya ada mahasiswa yang melakukan pengawasan dan pendataan terhadap kantin kejujuran dengan cara membuat jadwal piket secara rahasia tanpa diketahui oleh object pembeli.
2) Dinas Pendidikan Kota Malang hendaknya memberikan dukungan dan ikut menfasilitasi perguruan tinggi ataupun sekolah-sekolah lainnya yang berkeinginan untuk mendirikan dan melaksanakan praktik kantin kejujuran.
3) Peneliti atau mahasiswa yang akan datang hendaknya dapat meneliti metode pembelajaran antikorupsi yang diterapkan di dalam kelas.
Label: Karya~ku, Universitas Brawijaya
Jumat, 29 Oktober 2010
Diposting oleh
Requaza
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
Sekarang zaman telah berubah segalanya diinginkan serba cepat, apalagi di negara seperti Indonesia ini yang memiliki kinerja kerja rendah, proses cenderung di abaikan yang terpenting di prioritaskan adalah hasilnya. Hidup di zaman modern seperti ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Ingin berkomunikasi dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, hanya dengan mengangkat telepon atau akses ke internet. Ingin berbelanja atau memesan makanan tanpa keluar rumah, hanya dengan memesan melalui telepon atau melakukan transaksi melalui situs internet. Ingin transaksi transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone.
Orang-orang sekarang merasa sangat sibuk akan segala tugas dan pekerjaannya, mereka malas direpotkan oleh hal-hal yang ribet dan sepele, maunya serba cepat dan instan. Hadirnya beragam teknologi telah membuat banyak kemudahan dalam banyak hal, dan orang-orang telah di budayakan oleh kemudahan-kemudahan tersebut. Memang hal itu tidaklah salah selama masih dalam koridor-koridor kemandirian, sampai batasan tertentu teknologi dapat kita gunakan untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat dan praktis, tetapi tidak asal cepat, Kualitas juga harus tetap terjaga, padi yang dapat di panen selama 3 kali dalam setahun itu bagus, tapi kualitas alami padi yang di panen selama 1 tahun sekali itu masih lebih bagus. Karena hidup yang baik dan sukses itu adalah hidup yang sesuai dengan proses alam, dan menghasilkan kualitas bermutu.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tidak mau melewati proses alias malas. Yang penting cepat. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil sementara proses sudah dianggap tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan sehingga terjadilah banyak orang melakukan korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka berpikir “Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu?” “Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dilakukan?.” Lebih lanjut, pemikiran-pemikiran dangkal seperti itu seakan-akan telah berakar pada budaya masyarakat saat ini. Sekarang ini tengah terjadi pergeseran nilai di masyarakat, orang semakin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain sekedar untuk mengejar kesuksesannya sehingga ia tak ragu-ragu untuk mengorbankan orang lain.
Pendidikan Cenderung Dibisniskan. Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Promosi perguruan tinggi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak memiliki inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan seolah-olah hanya mengejar gelar untuk kelulusan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan bahkan ada yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi tidak sehat, kondisi pendidikan perguruan tinggi seperti itu sangatlah memprihatinkan.
Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Bahkan ada beberapa PTS yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IPK-nya tidak sesuai yang akan merusak citra perguruan tingginya tersebut. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Selain itu pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan perguruan tinggi tersebut.
Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama gencarnya dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu dipertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja untuk lulusan sarjana Perguruan Tinggi sekarang ini ?.
Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal seseorang dan prestasi akademiknya, namun pencari tenaga kerja tidak pernah mengkonkretkan atau menetapkan secara mutlak hal tersebut. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan dugaan para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan sederhana dari para pencari tenaga kerja.
Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari” oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang paling menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu peluang pekerjaan yang menarik, tiga kualifikasi kompetensi personal yang biasa menjadi patokan pencari tenaga kerja, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif.
Menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen bagi pencari tenaga kerja sekarang yakni memiliki kemampuan kompetensi dan diri pribadi yang unggul, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.
Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja mengabaikan bidang studi lulusan sarjana. Kesesuaian kualitas pribadi seseorang dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarjana dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai.
Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak sesuainya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja. Jika perbaikan dalam sistem seleksi mahasiswa adalah dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya secara faktual, dan perhatian terhadap kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan dalam proses pengolahan kompetensi dasar di Perguruan Tinggi, apabila untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja sangat diperlukan, sehingga akan terjadi keselarasan dan keseimbangan diantara keduanya yang nantinya dapat memberikan solusi dan perbaikan atas rendahnya kinerja kerja yang ada di negeri ini.
Label: Karya~ku
Sabtu, 16 Oktober 2010
Diposting oleh
Requaza
Label: Karya~ku
RSS Feed
Twitter